Posted in Personal Story

P.U.S.H

tumblr_oz5wbmAm311suij3mo1_1280

When I was in Birmingham, my fellows and I went to the Baptist Church also the museum. I met with a giftshop keeper, she told me that she like the words in the bookmark that I choose.

While she counts my things, she told me about her daughter in law who havent has a child yet. Then she said to her to PUSH “Pray Until Something Happens”. She kept talking to me about her daughter in law. She told me that she already has a child now. It was happening because she never stop praying till she got what she want.

You knew me so well if you think that I really wanna cry that time. Yes, I did! Hahhaaha…. I asked to my self, “why I can be in the United States right now”. I though she was true, one of the reason is just because I never stop believe and pray until something happens.

Advertisements
Posted in Quotation

Chins up, stick it out, better times will come! – The Diary of a Young Girl, Anne Frank, pg. 84

Posted in Personal Story

The Start of Memories

tumblr_inline_p2deawHYLm1s1k540_500

Dua ribu tujuh belas, salah satu resolusi saya adalah ingin bertemu dengan banyak teman-teman baru. Kenapa? Karena saya pemalu, introvert dan sulit bergaul, so I have to break the box (hiyeaah!). Waktu itu, saya hanya berpikir bahwa saya akan bertemu dengan teman-teman baru jika saya berkegiatan bersama Yakobi. Tetapi, ternyata Allah menjawab harapan saya dengan cara paling tidak sederhana seperti yang saya bayangkan.

Pada awal tahun 2017 lalu, saya dan Yakobiers menyelenggarakan proyek mengenai edukasi lingkungan kepada pemuda, khususnya siswa-siswi SMA di Tanjung Redeb dan Kelay. Proyek tersebut kami tuangkan dalam aktivitas Youth Green Camping Berau. Dimana, tim horenya bukan hanya Yakobi tapi juga beberapa teman pegiat lingkungan lainnya. Terima kasih untuk awal tahun yang menyenangkan dan penuh tawa (walaupun pada akhirnya, laporan kegiatan bikin keder juo. Hahaha). Bertemu mereka semakin membuat saya semakin cinta pada alam dan ingin selalu berbagi cinta tersebut pada semua orang agar mereka tahu nikmatnya.

Setelah Youth Green Camping selesai, maka selesai pulalah kisah saya dengan seorang “teman dekat” saya yang sudah dijalani selama bertahun-tahun. Jadi yaa… kalau tahun-tahun itu digunakan untuk melakukan cicilan rumah, pasti lunaslah sudah. Eh, ditambah mobil baru pula sepertinya. Apalagi jika tahun-tahun itu dijalani dalam pernikahan, entah berapa banyak anak yang sudah kami hasilkan. Hahahaha… anyway, akhirnya saya membalaskan kesepian dan kesedihan saya dengan mengajukan aplikasi program pertukaran pemuda ke Amerika Serikat (eh, tapi ini motivasi sampingan loh yaa).

Ah, kalau saya ingat kembali masa-masa itu rasanya luar biasa hebat. Saya jadi makhluk paling kuat, dewasa serta bijaksana dalam bersikap. Walaupun, ketika pertanyaan “ada apa?” terlontar dari Mama tetap sukses membuat saya mewek lebay (hwahahaha). Saya merasa harus selalu bersabar menjalani proses yang bikin mood berantakan selama berbulan-bulan, ededeeh! Iya, semua itu kulakukan demi masa depan yang cerah, gemah ripah loh jinawi (iki opo jal?). Tapi alhamdulillah, Allah selalu menunaikan janjinya, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan dan Dia memberi saya hadiah yang tidak pernah saya sangka.

Pada pertengahan tahun 2017, setelah bergalau-galau ria dan berharap-harap cemas, saya dinyatakan lolos seleksi lalu diundang ke Jakarta untuk melakukan wawancara visa dan departure briefing sebelum ke Amerika. Entah saya pernah bermimpi apa sampai bisa bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Bapak Donovan, di kediaman beliau, berjabatan tangan dengan beliau dan makan siang bersama pula sambil “pamer” prestasi serta kekayaan daerah.

Perjalanan saya ke Jakarta juga membawa saya pada kenangan masa kecil dan berhasil mempertemukan saya dengan teman lama dari Klub Buku Indonesia. Hal yang tidak kalah seru adalah pertemuan saya dengan 25 orang delegasi Indonesia dalam program YSEALI Academic Fellowship. Para delegasi ini adalah orang-orang keren dan inspiratif yang terpilih dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka kelak akan menjadi penerang untuk saya ketika sedang mandeg ide dan butuh cubitan. Untuk sekali dalam seumur hidup saya pula, saya punya teman sungguhan (bukan teman melalui jejaring sosial atau teman ketemu di jalan) yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia, termasuk pulau paling timurnya Indonesia, Papua. Hahaha, Vita norak! Bodo aamaaat~

Awal September hingga pertengahan Oktober 2017 lalu, akhirnya saya berangkat ke Amerika Serikat selama 5 minggu. For your information, ini adalah kali pertama saya pergi ke luar negeri. serius! Dan puji syukur, perginya malah ke negara impian setiap orang pula yaa kaan, mmm~

Eh tiba-tiba teringat dengan syair Imam Syafi’i ini,

“Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman… Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang.”

Selama masa perantauan, saya benar-benar menemukan keluarga baru dan teman-teman baru yang setiap harinya selalu membuat saya tertawa, bangga, menangis, kesal, bersemangat dan terinspirasi. Mereka adalah keluarga angkat saya, dosen-dosen saya di NIU, beberapa mahasiswa NIU yang saya temui di dining hall dan pada saat proses belajar, ibu-ibu dan anak-anak yang saya temui di Islamic Center DeKalb, keluarga Fulbrighter Indonesia di DeKalb dan tentu saja para saudara-saudara saya yang kreatif dan inspiratif dari 9 negara ASEAN.

Perjalanan saya selama 5 minggu itu, hingga sekarang masih belum bisa hilang dari ingatan saya. Banyak sekali cerita dan kenangan yang saya lalui bersama YSEALIs sampai tiba pada hari terakhir sebelum kembali ke negara masing-masing. Malam itu, kami berkumpul bersama di kamar ber-21 orang untuk saling menceritakan kesan dan pesan masing-masing selama program. Hampir semua curahan hati kami diwarnai tangis dan segukan. Lalu tibalah pada sesi terakhir, dimana kami sudah tidak tahan membendung air mata dan seperti sedang dikomando, kami berkumpul membentuk lingkaran dan saling memeluk satu sama lain. Iya, pelukan hangat seorang kakak pada adiknya, pelukan hangat seorang saudara yang baru ditemuinya tapi harus melepas saudaranya kembali untuk pergi jauh ribuan mil dan entah kapan bisa bertemu lagi.

Saat itu, salah seorang teman seperjuangan dari Indonesia memeluk saya erat sekali. Usut punya usut, kami baru saling tahu bahwa kami memiliki cerita hidup yang hampir mirip setelah farewell speech tersebut. Ditengah pelukan dan uraian air mata, dia berkata sambil menepuk bahuku.

“Semangat balik ke Kalimantan, Vit. Kita bangun Indonesia sama-sama!”

Saat itu bahkan saya tidak bisa berkata banyak, hanya air mata yang semakin deras mengalir dan memeluknya lebih erat. Perkataan yang sarat makna dan semangat, yang masih terus melekat di kepala saya sampai sekarang.

Belakangan, saya menyadari bahwa pertemuan saya dengan mereka adalah sebuah awal perubahan baik dalam hidup saya untuk semakin gigih menyelesaikan rencana hidup saya, mencari lebih banyak teman dan cerita hidup, serta berbuat kebaikan untuk banyak orang.

Cerita pertemuan dan perpisahan di atas belum selesai, sepertinya. Hahahaha… Ketika saya berada jauh dari kampung halaman, ada banyak peristiwa yang terjadi dan mempengaruhi kesehatan jiwa dan produktivitas saya dalam belajar dan bergaul. Sempat beberapa kali saya mendengar berita yang membuat saya “melotot-kejang” pada dini hari karena melihat update terbaru dari teman-teman atau kabar dari rumah.

Pada puncak kesedihan dan kerinduan saya pada tanah air, saya memilih untuk tidak tidur setelah menyelesaikan tugas pada dini hari dan keluar dorm pada pukul 07.00 pagi dengan baju berlapis-lapis, menggendong ransel berisi amunisi persiapan kelas, botol air minum dan sebuah apel. Pagi itu, saya menembus udara dingin yang mencapai 7 derajat celsius untuk pergi ke taman di perempatan kampus, duduk sendiri lalu menumpahkan kekesalan dan kesedihan saya dengan bekal gumpalan tissue di tangan. Mhahahaha….

Waktu itu saya membayangkan betapa rempongnya teman-teman di kantor, sementara saya tidak sedang berada di sana untuk membantu bekerja, berpikir atau sekadar memberikan yel-yel penyemangat. Belum lagi mengingat-ingat salah satu sahabat yang menikah dan tidak sempat saya saksikan. Teringat pula Mama yang pasti sedang kewalahan berjuang sendirian di rumah. Aaahh… Taman di perempatan kampus dan kursi pojok di lantai empat perpustakaan selalu jadi tempat terbaik saya untuk menumpahkan segala keluh-kesah.

Setibanya di Berau, saya mendapati beberapa teman yang hijrah ke tempat lain (hehe). Eh tapi seperti kata teman saya pada keterangan gambar dirinya—dengan gaya tutup mata, lidah keluar tapi senyum di media social— begini katanya, “setiap ada pertemuan, pastilah ada perpisahan”. Yepp! Akhirnya saya bertemu dengan teman-teman berjuang yang baru.

Nah, salah satunya adalah kakak tutor yang bertugas mengajar Bahasa Inggris di 3 kampung yang ada di Berau. Dari pribadinya, saya belajar untuk kreatif, “gila”, kerja keras, dan percaya diri (yang kadang malu-maluin). Saya juga belajar dari cerita-ceritanya selama melakukan perjalanan tugas di 3 kampung tersebut, tentang anak-anak dan pemuda kampung. Bahwa hidup dalam keterbatasan tidak lantas membuat mereka patah arang. Nyatanya, mereka juga punya kemauan yang tinggi agar dapat memiliki kemampuan yang sama seperti orang-orang yang serba cukup hidupnya.

Cerita saya di atas, mengingatkan saya pada salah seorang teman yang pernah mengutip tulisan Patrick Lindsay ini,

“Every new friend is a new adventure… the start of more memories”.

Belakangan ini saya baru sadar bahwa setiap orang-orang yang dipertemukan Allah pada kita, pasti akan selalu membawa warna dan cerita baru dalam hidup yang akan selalu dikenang. Perihal perpisahan juga tidak melulu soal keburukan. Saya percaya, setelah “tugas” mereka untuk “mendidik” saya sudah tunai dan mereka harus pergi, sekarang saatnya saya untuk melakukan kebaikan yang sudah mereka ajarkan dan menyelesaikan kekurangan yang mereka tinggalkan.

ndyahforentina |10 Januari 2018

Posted in Personal Story

Berkat Bom Kentut Dini Hari

Lemme tell you something about this picture!

tumblr_inline_p307rxnYrh1s1k540_500

Waktu itu, Community Builder Tim sedang sibuk-sibuknya untuk persiapan kedatangan tamu di kampung Birang. Karena harus persiapan kedatangan mereka esok harinya, jadilah kami melakukan persiapan kegiatan sampai malam di kantor Yakobi. Belum lagi mereka harus memikirkan persiapan di kampung. Lalu, Kak Ari dan Kak Rahma langsung buka suara, “we need volunteer!”

Kemudian, saya dan Kak Mirna mengiyakan. Saya dan Kak Ari harus berangkat menuju ke kampung lebih dulu sekitar pkl. 20.00 malam. Kami menyusuri hutan gelap, bukit tinggi dan sepi dengan mengendarai sepeda motor. Entah apa saja yang kami obrolkan waktu itu, jalan rusak berlubang pun dihantam saja. Khawatir, jika tiba-tiba ada gadis kesepian beramput panjang dan berbaju putih yang melambai-lambai pada kami.

Sampai di kampung, saya dan Kak Ari harus koordinasi ono-ene dengan warga kampung sembari menunggu Kak Mirna dan Kak Rahma datang. Sempat berkeliling beberapa rumah dalam keadaan belum mandi dari pagi dan perut keroncongan.

Selagi Kak Ari masih berkeliling kampung, girls team mulai nyiapin presentasi untuk besok. Hanya presentasi kegiatan biasa, namun harus berbahasa Inggris. Hahhaa… Walhasil, kami harus kursus singkat selama satu jam untuk mempersiapkan hal apa saja yang ingin disampaikan. Kami juga berlatih menjadi interpreter dengan saling tanya-jawab. What a wonderful experience! Kita yang biasanya ketemu teman-teman bule dan hanya membahas hal-hal ringan, eeh waktu itu malah harus menjelaskan hal-hal penting yang berkaitan dengan proyek. Gokil!

Sekitar pkl. 00.30, Kak Mirna dan Kak Ari kembali lagi ke Tanjung Redeb untuk mengambil file surel yang sedang diunduh dari sore sebelum kami berangkat. Malam itu, kami tidak tidur, we tried to figure out how to print that f**kin’ map pake kertas HVS dan dibuat dengan ukuran yang lebih besar!

Ditengah ketegangan itu, pkl. 03.00 dini hari, listrik tiba-tiba mati dan kami belum selesai mencetak. Waaaak!!!! Kak Ari mulai frustasi dan kami berusaha tidur untuk melupakan peta itu sejenak.

Listrik menyala lagi, kami bangun dan melanjutkan menyusun peta. Bhahaha… Akhirnya kami bisa menyelesaikan satu peta dengan skala 4×6 kertas HVS A4. That was so breath taking! Bahkan sampai ada bom kentut dini hari yang bikin ngakak guling-guling. Berkat bom kentut, kami sadar bahwa pekerjaan harus segera diselesaikan. Setidaknya, kami harus menyempatkan tidur lagi beberapa jam sebelum kedatangan mereka. Ah, perut juga sudah mulai tidak enak karena masuk angin.

Tamu-tamu akhirnya datang sekitar pkl. 09.00. Kami berusaha untuk presentasi dengan Bahasa Inggris yang belepotan karena jarang dilatih. Belum lagi, menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari tamu dan membantu warga dalam berkomunikasi dengan mereka. Hahahaha… Seruuu!

Hari itu saya janji untuk menuliskan cerita ini. Tapi maaf Kak, Vita sok sibuk jadi baru sempat menuliskannya sekarang. Salam rindu untuk kalian, Kakak-kakakku yang tangguh~

Sariadi Hamda, Rahmatuun, Mirna Al Yunus 😘💕

Hari ini, 23 Januari 2018 (23 Januari 2016)

Posted in Personal Story

Kloset Pintar

Beberapa bulan belakangan ini, saya mengikuti perkumpulan Backpacker Internasional di salah satu media sosial. Memang, saya agak berambisi untuk bisa menunaikan rencana ini sebelum usia 30an. Karena belum bisa terealisasi dalam waktu dekat, maka sementara ini menyimak dulu saja lah sembari belajar bersama mereka (hihi). Informasi yang mereka bagikan sudah pasti bisa ditebak dong yaa. Hampir setiap jam, mereka saling tanya dan bertukar informasi mengenai negara-negara tujuan, saling berbagi rencana perjalanan, dan saling berbagi cerita-cerita unik selama menjelajah dunia lain. Nah, salah satu cerita unik yang saya temui adalah tentang toilet dan klosetnya. Ngghh… Setelah saya ingat-ingat, saya juga pernah mengalami hal serupa. Hahahaha… Jadi gini…

Waktu itu, ada salah satu anggota group yang berbagi pengalamannya ketika menggunakan kloset di Chicago Ohare Intl Airport. Jadi, kloset ini menggunakan sensor tangan yang bisa digunakan untuk mengganti alas duduk. Dia bercerita, ketika mendekatkan tangan pada sensor tersebut, alas duduknya sempat berputar-putar dua kali. Saya sempat geli membaca cerita tersebut dan teringat kalau saya juga pernah mengalami kebodohan itu. Bahkan, alas duduknya sempat berputar berkali-kali sampai akhirnya saya sadar fungsinya setelah membaca dengan teliti petunjuk yang ditempel di dinding. Harap maklum, karena saya menemukannya di bandara setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam di udara, sedang kelaparan, kedinginan, dan baru saja bertemu dengan banyak orang asing. Saya juga sempat panik ketika akan bersih-bersih tapi ternyata hanya ada tombol flush, tidak ada tombol shower atau selang shower-nya, yang ada hanya tissue Yaa… Saat itu saya baru tersadar lagi bahwa saya sedang tidak berada di toilet bandara negara sendiri.

Eh petualangan bersama si kloset pintar ini bukan hanya itu saja. Ada cerita lucu juga ketika hari pertama sampai di dorm kampus. Jadi ya, pada malam hari kedatangan saya di kampus, udaranya mencapai 7 derajat celcius. Bbbrrr… Walaupun sudah mengenakan pakaian berlapis tetap saja masih terasa dingin dan bikin beseerr. Hahahaha…

Well, setelah mengecek kamar dan menaruh barang-barang, saya masuk ke toilet dan kaget bukan main. Di dalamnya, ada kamar mandi tidak berpintu empat bangsal dan bilik toilet empat bangsal. Berikut adalah penampakan ruangan toilet yang ada di salah satu gedung kampus yang mirip dengan toilet dorm. Walaupun yang ini terlihat lebih bagus dari toilet dorm.

tumblr_inline_p3mu8x87bp1s1k540_500

Bisa dibayangkan bagaimana risihnya ketika sedang buang hajat tapi bersamaan dengan kawan di sebelah. Kita akan saling tau bagaimana aroma dan bunyi-bunyi yang dihasilkan. Tapi lama-lama semua kekhawatiran itu sirna, karena akhirnya kami bisa berdamai dengan keadaan. Bahkan, ketika kami saling tau siapa teman di bilik sebelah, kami bisa sambil mengobrol tentang tugas dari dosen atau saling komentar tentang “hajat” yang sedang diselesaikan. Sounds disgusting, but it made us so close each other. Hahaha…

Nah, drama lain yang terjadi ketika buang hajat di dorm adalah pada waktu subuh hari pertama. Saya terbangun sekitar pkl. 03.00 dini hari karena mulas. Ah, segera kuselesaikan hajatku ke toilet sebelum ada teman-teman yang datang. Ketika saya sedang asyik membaca berita terbaru dan menonton acara televisi kesukaan sambil buang hajat, tiba-tiba terdengar seperti ada suara kucing mengeong yang sedang menggertak musuh. Suara itu membuatku kaget dan refleks mengangkat kaki. Suara itu terdengar beberapa kali. Setelah kutelaah, teryata suara itu datang dari kloset pintar yang sedang menemaniku waktu itu. Ehehehe… Itu hanya suara flush otomatis dari kloset.

Baiklaah…. Akhirnya, saya mulai terbiasa dengan kloset pintar bersuara kucing tersebut selama beberapa minggu.

Pada minggu keempat program belajar, saya dan teman-teman harus trip ke beberapa state. Ceritanya, karena perjalanan udara beberapa kali, kami harus mampir dan mencoba bersahabat dengan beberapa kloset baru lagi.

Saat itu, saya lupa sedang berada di bandara mana. Jadi, ketika saya masuk ke bilik toilet dan selesai melakukan ritual bersih-bersih, saya panik karena tidak ada tombol flush. Saya sempat duduk beberapa saat sambil menunggu ada “suara kucing” atau adanya tanda-tanda lain. Kemudian, saya berusaha untuk mencari petunjuk pada dinding dan mencari sensor tangan di sekitar kloset yang mungkin bisa menyiram otomatis, tapi tidak ada. Akhirnya, saya menemukan satu benda di bagian belakang kloset—yang saya pikir adalah tombol flush dengan sensor tangan. Tapi ketika saya mendekatkan tangan malah tidak terjadi sesuatu. Dengan percaya diri, saya berusaha menyentuh dan memencetnya. Akh, betapa kagetnya! Benda itu malah mengeluarkan aliran listrik ke tangan saya. Heh, Nyetrum!, aku bergumam lirih. Setelah mendapat sengatan listrik itu, tiba-tiba kudengar suara laki-laki bersuara bass memberikan saya peringatan dalam Bahasa Inggris untuk tidak mencoba untuk merusak fasilitas umum. Dengan lugunya, saya mencari sumber suara tersebut ke atas langit-langit. “Siapa tau ada speakernya di sekitar sini atau kamera cctv”, gumamku dalam hati. Eh tapi tidak ada!

Amboi… Hati pun mulai deg-degan dan berpikir bahwa mungkin saja orang yang menegur saya tadi sudah menunggu di depan pintu keluar toilet. Dengan hati campur aduk tidak keruan, saya menuju wastafel untuk mencuci tangan dan muka. Namun, kejadian bodoh di dalam toilet tersebut tiba-tiba teringat di kepala hingga membuat saya senyam-senyum sendiri. Lalu, seorang perempuan muda yang sedang memakai lipstick di sebelah saya terheran-heran. Saya bergegas mengelap tangan dan muka sembari menyapanya dan berlalu. Ah, ternyata ketika saya keluar dari bilik toilet tersebut, klosetnya baru membersihkan secara otomatis. Saat menuju jalan keluar toilet, saya masih senyum-senyum menanggung aib dan was-was. Alhamdulillah, tidak ada petugas bandara atau cleaning service yang menghadang saya di depan pintu. Padahal saya sudah menyiapkan jawaban yang bisa saya ceritakan pada mereka atau bersiap merepotkan Colleen, administrative director yang menemani saya dan teman-teman kemana-mana.

Cerita yang lain, adalah cerita bersama si kloset pintar dari Jepang. Jadi, pada saat saya masuk ke dalam bilik toilet, saya tidak menemukan tissue dan hanya menemukan kotak putih dan tombol-tombol seperti ini…

Simbol-simbolnya bikin bingung karena saya sedang jetlag, kebelet, dan tidak sempat mencari petunjuk lain yang mungkin menggunakan Bahasa Inggris. Karena saya tau jenis klosetnya menggunakan flush otomatis, akhirnya saya berinisiatif untuk menarik beberapa tissue di dekat bak pencuci tangan, karena di dalam bilik toilet tidak disediakan tissue untuk bersih-bersih. Aih, seandainya saya tau kegunaan tombol-tombol itu lebih dulu, saya pasti akan betah untuk mencoba bereksperimen dengan fungsi-fungsi tombol tersebut.

Yaah begitulah, cerita saya tentang kloset-kloset pintar yang saya temui selama berada di negeri antah-berantah. Pengalaman yang membuat saya belajar bahwa bukan hanya gawai saja yang pintar, kloset yang diciptakan untuk urusan kotoran juga tidak kalah canggih. So, pesan moralnya adalah… Ketika masuk toilet asing, perhatikan lebih dulu jenis klosetnya dan cari petunjuk-petunjuk yang tertera. Yang paling penting, selalu sedia tissue basah atau botol air minum. Hahahaha… You know what you should do with those things, right?

Note:

Foto diambil dari dokumentasi pribadi, google, dan dari salah satu member group BI. Terima kasih sudah diizinkan meminjam fotonya, Mbaa. 😆💕