Posted in Personal Story

29 November

Aku diam termenung di pojok kamarku. Melipat kedua kakiku dan memeluknya. Sesekali aku mengusap air yang mengalir keluar dari kelenjar air mataku.

Kutengadahkan kepalaku, menatap kosong ke langit-langit. Batinku mulai berbicara, sesuka hatinya tanpa bisa kutahan.

“Aku tak ingin bersedih, tapi mengapa hanya kenangan itu yang terlintas di pikiranku?”

“Aku tak ingin menangis, tapi mengapa hanya perpisahan itu yang terlintas di pikiranku?”

“Aku tak ingin melupakan, tapi mengapa hanya dia yang terlintas di pikiranku?”

“Kamu sedang apa? Mengapa tak datang padaku? Tak tahukah bahwa aku merindukanmu?”

“Oh, tolonglah! Buat aku bahagia hari ini saja. Hanya hari ini. Setelahnya, aku tak peduli. Sungguh.”

 

Written on December 1, 2014

Advertisements

Author:

A Professional Dreamer!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s