Posted in Personal Story

Sebuah Tulisan dan Pembaca Setianya

Aku mengenalnya sejak awal masuk kuliah dan sama-sama tergabung dalam kepengurusan salah satu organisasi kampus. Sorry, Gais, aku tidak akan mendeskripsikan seperti apa ciri-cirinya atau apapun. Karena aku yakin dia pasti GR jika ia sadar bahwa dialah yang dimaksud dalam tulisan ini. Jadi, sebut saja ia Bambang.

Awalnya, aku dan Bambang hanya saling tahu nama saja dan sesekali bertegur-sapa ketika bertemu. Walaupun kadang kami terlibat diskusi bersama, namun aku masih saja tidak begitu peduli tentangnya.

Cukup lama kami tidak pernah bertemu dan menjalin komunikasi, hingga suatu ketika kami dipertemukan kembali pada salah satu kegiatan. Setelah itu, kami mulai menjalin komunikasi yang lebih intens dan Bambang mengajakku untuk terlibat dalam satu project bersama. Sebab itu, ia jadi banyak berbagi dan bercerita tentang banyak hal. Jadilah, aku mulai tahu tentang kegiatan dan pekerjaan yang sedang ia tekuni saat ini.

Setelah kami banyak mengobrol dan saling tukar cerita, ternyata kebiasaanku untuk mengenal seseorang hanya tahu nama saja tanpa mengenal apa dan bagaimana dia, itu bukanlah suatu kebiasaan baik. Mengapa? Karena ternyata Bambang mengenalku lebih dari sekadar tahu nama, tapi ia mengetahui tentang kegemaranku.

Di setiap kegiatan yang aku kerjakan, aku selalu berusaha menuliskannya dalam memo dan entah mengapa aku ingin menunjukkannya pada Bambang, saat itu. Sepertinya Bambang mulai tertarik dengan tulisanku hingga memberikan komentarnya. Bahkan ia memberiku banyak cerita tentang pengalaman-pengalamannya yang bisa aku jadikan bahan tulisan.

Bambang pernah mengatakan bahwa ia ingin sekali belajar menulis. Aku pun jadi bersemangat ingin berbagi dan mencari tahu hal apa yang membuatnya tidak bisa menulis. “Sulit merangkai katanya”, ucapnya. Mmm… Padahal yang kutahu, Bambang memiliki kemampuan berbicara yang bagus dibandingkan aku dan aku yakin dia bisa. Menurutku, menulis itu sama saja seperti berbicara secara oral, namun hanya berbeda cara saja.

Sejak saat itu, Bambang jadi lebih sering mengajakku untuk terlibat dalam project yang ia kerjakan hanya untuk menjadi notulen. Awal yang menyenangkan menurutku, karenanya aku jadi bersemangat untuk menulis lebih sering. Padahal, sudah cukup lama aku tidak pernah menulis lagi dengan alasan tidak banyak waktu dan tidak ada bahan yang bisa dituliskan. Sebenarnya, alasan-alasan itu hanyalah untuk menutupi kemalasan saja. Setelah tahu seperti ini, entahlah! Apakah menulis bisa disebut sebuah hobby jika masih sering malas?

Aku selalu mem-posting tulisan di akun tumblr-ku dan sesekali membagikan link tulisanku di media social. Ternyata, secara diam-diam Bambang membacanya. Dari mana aku tahu? Jadi, ketika kami sedang berbincang, ia sering menyinggung isi dalam tulisanku dan akhirnya selalu menjadi cerita yang sangat menyenangkan untuk kami bahas. Aku terharu, ternyata ada orang yang tertarik untuk “melirik” tulisanku dan membacanya tanpa harus aku paksa. Terima kasih Bambang, karena sudah menjadi salah satu pembaca setiaku. 

 

Written on June 1, 2015

Advertisements

Author:

A Professional Dreamer!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s