Posted in Personal Story

Bersiap dan Mari Berpetualang!

30 Maret 2017

Peserta Youth Green Camping (YGC) sudah bersiap dengan alat tempurnya, bucket hatcargo pants, sepatu lapangan, dan carrier 60L. Mereka lebih terlihat seperti akan naik gunung 2000an mdpl ketimbang camping di hutan lindung. Hehehe…

Perjalanan Tanjung Redeb – Kelay hanya akan ditempuh sekitar 2-3 jam perjalanan darat, kemudian akan dilanjutkan dengan naik ketinting ke Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) selama 45 menit. YGC akan berlangsung selama 4 hari 3 malam dengan peserta sebanyak 40 siswa SMA/SMK dari  Tanjung Redeb dan Kelay. Sisanya adalah tim fasilitator, tim konsumsi, guru pendamping, tim medis, communication and creative team Yakobi untuk dokumentasi dan membantu haha-hihi lalala-yeyeye selama kegiatan berlangsung.

Dengan peserta sekitar 60 orang secara keseluruhan, bisa dibayangkan dong ya seberapa banyak barang yang harus dibawa? Buaanyaak sekali. Bahkan, ketika salah satu orang tua peserta berkunjung ke base camp Yakobi untuk mengkonfimasi kehadiran esok harinya, ia sempat berkomentar, “ sudah seperti akan ada pernikahan saja, ya?”. Kami menanggapi sekenanya sambil tersenyum simpul. Rupanya, lelah yang menggelayuti seluruh tubuh bisa berpengaruh pada kualitas senyum dan mood.

Sebelum memulai perjalanan, seluruh peserta diajak untuk berkumpul untuk mendengar arahan dari Abang-abang fasilitator dan berdoa bersama. Seluruh peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan dipersilakan mencari nama masing-masing yang sudah ditempel pada kaca mobil.

Sedari tadi, aku dan teman-teman lebih sibuk membagikan lunch box, memastikan alat fasilitasi dan beberapa keperluan lain lengkap dan tidak ada yang tertinggal. Akhirnya, aku harus menerima kenyataan bahwa mobil yang akan aku tumpangi sudah digusur oleh bibit pohon.

Well, Bang Fahri memintaku bergabung dengan mobil yang dikendarai oleh Kak Linus (COP) dan Pak Hamzah (KPHBB). Aku meminta Kak Ari dan Kak Oky untuk menemani, karena ternyata kami senasib tidak dapat tempat . I am the beautiful one among them, hari ini. Hihihi.

Baru 5 menit perjalanan, aku, Kak Ari, dan Kak Oky mulai heboh karena harus sempit-sempitan bertiga di jok belakang. Bagaimana tidak sempit, kami harus memangku beberapa gembolan tas berisi kamera— yang segede gaban—, tas berisi totebag handmade yang akan dibagikan pada peserta, dan satu ransel penyelamat milikku yang khusus disiapkan Mama untuk memasukkan peralatan makan, beberapa bungkus snack, air mineral, 2 balok roti tawar dan selai strawberry.

Ketika kami harus memastikan kebutuhan logistik peserta aman,  tapi malah kami yang tidak aman karena belum sempat mengisi perut. Hari ini, aku mengakui bahwa Mama-mama sungguh hebat dengan segala persiapan dan keribetannya. Padahal, malam sebelumnya sudah mengomel pada Mama karena melihat banyak barang yang beliau persiapkan untuk kubawa.

Kak Ari membantuku membuka roti tawar dan mengolesinya dengan selai, kemudian dibagi rata untuk 5 orang.

“Mas, namanya siapa? Ayo kita kenalannya lewat roti, biar kayak di film-film.” Kata Kak Ari sambil menyodorkan rotinya.

“Hahaha… terima kasih. Saya Linus,” kata lelaki muda yang sedang meyetir itu.

“Saya Ari, ini Oky dan Vita.” Kata Kak Ari sambil membagi-bagikan rotinya pada kami.

“Oh iya Pak, makan roti gini paling enak kalo ada kopi ya, Pak? Apalagi kalo ada rokok. Tau banget kita orang lapangannya, yak?!” Bagai koor, kami ramai-ramai menyambut celetukan Kak Linus dengan tawa. *Ehehehek

Lelahnya semalam harus bolak-balik melengkapi  beberapa kebutuhan dan pesanan teman-teman yang sudah lebih dulu berada di Kelay, kami jadi tidak ingat makan. Jangankan untuk makan atau mandi, untuk cuci muka atau hanya sekadar membersihkan tahi mata saja tidak sempat. Bahkan rutinitas bercermin dan memakai pemoles bibir sebelum jalan sudah tidak aku lakukan. Hahaha, ini serius.

Ini bukan kali pertamaku menjejakkan kaki di kampung Lesan Dayak. Pada April 2015, aku mendapatkan kesempatan voluntary work bersama Kak Ari dan Kak Samuel untuk project yang sedang dikerjakan Yakobi. Tentu, medan serta jarak tempuh yang kulalui sudah tidak asing lagi. Tapi setiap kali melihat supir taksi yang super nekat menyelip truk-truk besar tanpa perhitungan, rasanya ngeri-ngeri-sedap. Mereka seperti lupa dengan beberapa nyawa yang mereka tanggung keselamatannya sepanjang jalan.

Untuk menikmati perjalanan, tidaklah seru jika harus saling berdiam diri. Kami mulai bercerita hal-hal random yang diawali dengan cerita dari teman-teman tentang hutan dan project pemerintah. Terdengar pula curhatan tentang peraturan lucu yang dibuat oleh “bapak bersenjata” di anu agar kendaraan yang melewati markas mereka tidak ngebut. Pak Hamzah dan Kak Linus juga mulai banyak bertanya tentang kegiatan-kegiatan yang menjadi fokus kerja Yakobi. Ada pula, ulah supir taksi di jalan pun tidak luput dari perbincangan kami. Nampaknya, topik bahasan dengan tema love song tahun 70an membuat Pak Hamzah semakin lancar bercerita. Beliau bersemangat sekali ketika berusaha menyanyikan lagu lawas yang diputar sembari bercerita kenangan masa mudanya.

***

Terakhir kali ke Lesan Dayak, aku harus menyeberang sungai untuk bisa sampai di kampung. Namun kali ini, kami sudah bisa melewati jalur darat baru dengan tanah kuning. Di depan, ada satu mobil rombongan yang terlewat dari simpangan jalan ke kampung. Mungkin, mereka sama kagoknya denganku ketika mengetahui perubahan arah jalan ini.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menunggu mobil berbalik arah. Tapi sepertinya, hanya menunggu, berharap , dan tidak melakukan apapun, tidak akan ada hasilnya. Lalu, kami berinisiatif untuk menghubungi salah satu penumpang dalam mobil tersebut. Sayangnya, ketika kami mengecek ponsel masing-masing, tidak ada network bar yang ditemukan. Kami mulai sibuk mencari signal dengan saling berpencar, jongkok, berdiri sambil goyang-goyang kaki dan mengangkat ponsel ke atas awan. Sedangkan aku, mencoba posisi duduk pasrah di tanah dan mendiamkan ponsel tergeletak di tanah beberapa saat hingga network bar terlihat naik-turun 1-2 bar.

Kami pun berhasil menghubungi mereka dan menunggu di persimpangan jalan agar tidak terlewat lagi. Bapak dan tiga orang pemuda ini agaknya mulai lelah menunggu dan mulai mencari topik bahasan baru lagi. Sembari menunggu dan mendengar pembicaraan mereka, tanganku malah sibuk untuk mencoba mengirim pesan untuk Mama. Walaupun akhirnya, jariku urung untuk menulis pesan dan malah menyiapkan catatan di ponsel karena tertarik dengan celotehan mereka.

“Pekerjaan itu harus dinikmati, supaya tidak mati oleh kondisi.”

Kuhela napas panjang, mencoba  meresapi kata per kata lebih dalam agar bisa dijadikan penyemangat ketika aku mulai labil suatu saat nanti. Jadi, kalau kamu adalah anak muda malas dan sering mengeluhkan pekerjaan? Setidaknya dengar nasihat Bapak ini!”

Obrolan mereka terhenti ketika mobil yang sedang kami tunggu datang dan mengajak Pak Hamzah untuk bergabung dengan mereka. Kami mulai melanjutkan perjalanan lagi beriringan. Ah, jalan tanah kuning ini berkelok, menanjak, becek, dan ada jurang di sisi kirinya. Perutku terasa diaduk-aduk.

Untungnya, Kak Ari berusaha mengusir kecemasan dalam perutku untuk mulai mencari tahu banyak hal tentang COP (Center Orangutan Protection) pada Kak Linus. Kak Linus dengan senang hati berbagi pengalamannya sebagai kapten COP Borneo dan orangutan rescuer. Lamat-lamat kudengar arah diskusinya semakin seru saja untuk didokumentasikan. Kak Ari dan Kak Oky bertingkah seolah pewawancara andal. Tugasku adalah menyalakan voice recorder, mencatat beberapa poin penting, dan berusaha jadi “kompor” agar diskusinya semakin seru. Aku janji untuk menuliskan ceritanya setelah selesai  YGC untuk berbagi semangat konservasi orangutan dari orang-orang hebat ini.

Advertisements

Author:

A Professional Dreamer!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s